Cara Membasmi Hama Ulat Pada Tanaman Jagung

Hama ulat pada tanaman seperti jagung memang cukup meresahkan apalagi saat tanaman jagung tumbuh atau tongkol mulai terbentuk, potensi kerugian petani jika hama ulat pada jagung ini tidak dikendalikan bisa mencapai 40% bahkan lebih jika populasinya merajalela. Jenis hama ulat yang banyak menyerang pada jagung adalah ulat grayak yang memakan daun pada fase pertumbuhan dan ujung tongkol jagung yang masih muda.

Wabah ulat grayak berawal dari Amerika Serikat, yang kemudian menyebar ke India, Thailand, dan masuk ke Indonesia di awal tahun 2019 melalui Sumatera. Kemudian merambah ke Madura, Jawa Tengah, dan menyebar di Kabupaten Tuban pada Mei 2019 dan kemudian semakin meluas hingga hampir seluruh Jawa Timur.

Akibat serangan ulat grayak ini, tanaman jagung sebagai tanaman pagan tidak dapat tumbuh dan tongkol tidak akan terbentuk secara maksimal bahkan dapat membusuk. Ulat grayak yang dijumpai pada daun maupun tongkol jagung sebenarnya berasal dari vektor pembawa yaitu lalat buah yang menyuntikkan telur ke dalam tongkol jagung yang masih muda. Oleh karena itulah kita terkadang tidak dapat mengetahui jika telah dimakan ulat di ujung tongkol karena memang ulat tersebut berada di dalam klobot jagung. Pada artikel ini kami ingin membagikan tips bagaimana cara mengendalikan hama ulat pada jagung terutama yang menyerang tongkol.

Mengenal Modus Serangan Hama Ulat pada Jagung

Sebagaimana dijelaskan pada paragraf di atas, ulat pada tongkol jagung berada di dalam klobot sehingga tidak dapat dilihat langsung oleh petani. Sebenarnya kedatangan ulat itu hampir sama halnya ulat yang menyerang pada buah seperti tomat, jambu, mangga, dll. Hama ulat dibawa oleh lalat buah yang menyuntikkan telur ke dalam buah. Selanjutnya telur menetas di dalam dan menjadi larva, nah untuk bertahan hidup, larva tersebut memakan apa yang ada disekitarnya yaitu biji atau tongkol jagung yang masih muda yang berada di ujung. Kebanyakan petani baru menyadari hal ini ketika ulat sudah menjadi besar, sehingga penyemprotan pestisida sudah tidak efektif lagi.

Serangan ulat pada jagung sebenarnya sudah dimulai ketika jagung mulai tumbuh pada usia 7 – 14 hari dan pada saat jagung mengeluarkan tongkol. Umumnya ada 2 jenis hama ulat grayak yang menyerang tanaman jagung, yaitu Spodeptera Frugiperda dan Spodotera Litura. Kedua jenis ini sama-sama berbahaya, namun sebenarnya dapat dikendalikan dengan metode, cara, dan waktu yang tepat.

Cara Membasmi Ulat Grayak Pada Tanaman Jagung
ulat grayak

Pengendalian Ulat pada Jagung dengan Insektisida

Penyemprotan menggunakan pestisida berbahan aktif betasifultrin cukup ampuh untuk memberantas hama ulat pada jagung dan padi, namun yang menjadi masalah adalah pada saat apa penyemprotan itu efektif. Kebanyakan penyemprotan yang dilakukan pada sore atau siang hari kurang efektif, karena pada kondisi panas, ulat akan bersembunyi, dan intensitas angin pada saat itu cenderung tinggi. Sebenarnya penyemprotan paling efektif dilakukan pada malam hari, namun sepertinya tidak mungkin petani malam-malam ke sawah. Jadi yang daat dilakukan yaitu lakukan penyemprotan pada saat setelah subuh sebelum matahari terang menyinari bumi.

Selain tepat waktu, penyemprotan juga harus tepat cara dan sasaran. Penyemprotan untuk mengatasi hama ulat pada jagung harus dilakukan pada bagian jagung yang rentan yaitu pada pupus dan ujung tongkol. Posisi nozle semprot juga harus disesuaikan agar larutan pestisida dapat masuk ke dalam lipatan-lipatan daun atau klobot tanaman jagung. Hal yang perlu diingat, penyemprotan tidak boleh dilakukan terus-menerus menggunakan obat berbahan aktif yang sama, harus diselang-seling, hal ini agar hama ulat tidak kebal nantinya.

Jenis Insektisida untuk Hama Ulat pada Jagung

Jenis pestisida yang paling cocok untuk membasmi hama ulat ini adalah pestisida sistemik yang mampu meresap ke jaringan tanaman. Ketika jaringan tanaman terkandung pestisida maka ulat akan keracunan ketika memakan daun tanaman jagung. Beberapa pestisida sistemik untuk mencegah hama ulat pada jagung yang dapat kangtani rekomendasikan adalah insektisida berbahan aktif dimehipo, imidakloprid, fipronil, dan asefat. Sedangkan yang jenis kontak adalah yang berbahan aktif piretroid (sipermetrin, deltametrin, betasifultrin), klorpirifos dan bpmc. Untuk merk masing-masing bahan aktif sangat bervariasi, kawan-kawan dapat menanyaka di toko pertanian. Penggunaan insektisida kontak dan sistemik diaplikasikan secara bergantian untuk memutus rantai pertumbuhan hama ulat grayak pada tanaman jagung.

Tanaman jagung umumnya memiliki fase rentan selama 45 hari, karena fase setelah itu jaringan tanaman (yang masih sehat) akan tumbuh kuat dan keras. Sehingga sangat penting bagi petani untuk menjaga dengan sigap dan teliti tanaman jagungnya selama 45 hari setelah pindah tanam. Hama ulat pada jagung juga dipengaruhi oleh cuaca, biasanya pada musim kemarau serangan hama ulat akan merajalela, maka petani yang menanam jagung pada musim kemarau harus mempersiapkan diri menghadapi hama ulat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.